“ Hmm iya , kalau
enggak karena dia enggak mungkin aku tahun tentang semua kebenaran ini.”
“ Sha , kalo aku boleh
jujur . Hmm mungkin enggak kalo Sesilia Cuma ngarang cerita supaya kamu sama
Jaya putus ? .”
“ Menurut aku enggak
Ren , aku tahu semua ini benar .”
“ Kamu yakin Sha ?.”
“Iya aku yakin , Keyna
nama cewek yang sudah selama lima bulan bikin Jaya berubah ” Marsha menyeka air
mata yang mulai membasahi kedua pipinya . “ Dan dengan begonya , Jaya udah
berhasil ambil semua perasaan sayangku Ren.”
Iren memeluk erat
sahabatnya , sahabatnya yang kini lemah menahan perasaan perih yang teramat
dalam .
“ Sekitar empat bulan
yang lalu aku pinjam Handphone Jaya ,
disitu akun lihat foto cewek super modies dan punya talenta , emang dibandingin
sama Keyna , aku enggak ada apa-apanya “ kata Marsha lirih menahan jutaan air
mata yang hendak terjun bebas dari pelupuk matanya.
“ Se modies apa sih
cewek itu ? dan talenta apa yang dia miliki ? Sha , di dunia ini enggak ada
manusia yang sempurna , sempurna itu Cuma milik Tuhan.”
“ Keyna itu Duta Wisata
, anak orang kaya dan …… “ Marsha tak mampu melanjutkan kata-katanya , lidahnya
kelu terasa kaku.
“ Iya udah enggak usah
bahas cewek itu lagi , yang paling penting sekarang kamu harus kuat Sha “ Iren
menatap wajah Marsha .” Tuhan baik , dia udah buka mata kamu , Tuhan pengen tunjukin ke kamu siapa Jaya
sebenarnya.”
Marsha menganggukan
kepalanya , mencoba meredam rasa sakit yang menyelimuti hatinya.
***
Marsha sedang sibuk
merapikan beberapa baju yang telah ia obrak-abrik , terpilih sebuah dress
berwarna ungu putih. Ya sebuah dress yang cukup cantik .
Seorang laki-laki
berdarah manado Bali , dengan tinggi seratus tujuh pulu tiga centimeter dengan
style yang cukup rapi telah menunggunya diruang tamu. Laki-laki itu terlihat
santai memainkan handphonenya sembari
sesekali tersenyum melihat wallpaper handphone
nya.
“ Hmm senyum-senyum
terus “ kata Marsha sembari menuruni satu demi satu anak tangga.
“ Emang enggak boleh ?
.”
“ Kok ketus gitu
jawabnya ? “ Marsha menatap lurus kearah mata Jaya.
“ Ketus ? enggak kok ,
aku biasa aja jawabnya . Udah lah enggak usah nyulut emosi masa kita bertengkar
, ini kan malam minggu. Gak lucu.”
“ Iya aku tahu semua
ini emang enggak lucu , semua ini perih , nyesek , sakit !.”
“ Aku enggak ngerti
kamu ngomong apa . Oke sekarang mendingan kita nonton film.”
“ Aku enggak mau nonton
, gak mood .”
“ Marsha , kamu kenapa
? kok kita jadi aku kamuan gini ? .”
“ Menurut kamu ? .”
“ Yaudahlah , kalau
kamunya gini mending aku pulang aja . Kayaknya enggak ada gunanya aku udah
kesini jauh-jauh demi ketemu kamu dan kamu nya malah gini.”
Jaya mengangkat
tubuhnya perlahan , ia melangkahkan kaki hendak beranjak pergi.
Marsha menarik tangan
Jaya . “ Tunggu .”
“ Apa lagi ? “ tanya
Jaya sembari menatap Marsha.
“ Aku sayang kamu “
kata Marsha lirih , ini kelemahan Marsha , Marsha lebih menggunakan hatinya disaat
mencintai Jaya , tetapi Jaya lebih menggunakan otaknya untuk mengambil hati
Marsha .
Keduanya saling
bertatapan , tatapan yang sulit diartikan terpancar dari sinar mata Jaya.
“ Hmm aku juga sayang
kamu banget hehehe , yaudah sekarang kita pergi ke Bioskop yuk nonton film ,
ada film kesukaanku baru rilis .”
Marsha menganggukan
kepalanya , keduanya melangkahkan kaki pergi meninggalkan ruang tamu rumah
Marsha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar