KANKER SAHABAT ADRIAN
Laki-laki itu berdiri didepan cermin memperhatikan bentuk tubuhnya , yang kini kurus. Semua telah berubah , sangat berbeda. Tak ada lagi rambut lebat dikepalanya , tak ada lagi otot-otot kuat yang menghiasi tubuhnya , tak ada lagi senyum ceria yang terpancar dari wajah manisnya.
Tok
! tok ! , pintu kamar lelaki itu diketok , oleh seseorang dari balik pintu.
“
Masuk pintu enggak dikunci “ kata lelaki itu.
Seorang
wanita berumur sekitar empat puluh satu tahun, muncul dari balik pintu . “
Adrian , ayo sarapan pagi dulu sebelum berangkat kerumah sakit.”
“
Rumah sakit ? Adrian bosen ma pergi kerumah sakit.”
“
Drian , kamu enggak boleh bicara seperti itu . Mama tau , perasaan mu , mama
ngerti nak “ kata Wanita itu sembari
memeluk putra sulung nya.
“
Ma , kenapa Tuhan harus kasih penyakit ini ke aku ? apa salahku ma ?! “ kata
Adrian sembari menatap lekat-lekat wajah mamanya.
“
Kamu enggak salah nak , ini takdir Tuhan “ wanita itu berusaha tersenyum
ditengah rasa getir yang menyelimuti hatinya.
“
Aku udah selesai ma , masa depanku hanyalah kematian yang tinggal menunggu
waktu bergulir .”
“
Drian , jangan berkata seperti itu nak .”
“
Ma aku lelaki penyakitan , Lingkan ninggalin aku karena aku sakit kanker . Aku
tahu seberapa parah dan mematikannya penyakit ini.”
Suasana
hening , Adrian berbaring ditempat tidur , matanya tertuju pada sebuah foto
yang terletak dimeja yang berada tak jauh dari ranjangnya.
Terlihat
difoto itu Adrian dengan rambut lebatnya , Adrian yang masih memiliki otot-otot
kuat ditubuhnya , Adrian yang tersenyum manis memegang sebuah piala , juara
lomba bermain futsal.
Disisi kirinya teman-teman nya ikut larut
dalam keceriaan , di sisi kanan nya terlihat seorang gadis berwajah manis yang
memeluknya . Ya itu Lingkan kekasihnya , dulu.
Sekarang
semua itu tinggallah kenangan semata , jangankan berlari . Bisa berdiri dan
sedikit beraktivitas saja Adrian sudah sangat bersyukur.
***
“ Gimana ma ? Adrian mau pergi kerumah sakit ?
“ tanya lelaki itu , lelaki berumur sekitar empat puluh lima tahun .
Wajahnya yang mulai
menua tumbuh beberapa kerutan , kerutan tanda perjuangannya selama ini.
“
Adrian menolak pergi kerumah sakit pa , mama harus bagaimana ? ” wanita itu
menangis , menumpahkan segala perasaannya.
“
Kita harus terus membujuk Adrian ma , kemoterapi itu sangat penting bagi
kelangsungan hidup Adrian .”
Wanita
itu menganggukan kepalanya , seorang anak kecil berumur sekitar delapan tahun
mengintip pembicaraan itu dari balik pintu.
Anak
kecil itu meninggalkan kedua orang tuanya , yang didera kesedihan hebat , kedua
orang tuanya yang sudah kehabisan akal untuk membujuk Adrian.
Anak kecil itu berjalan
mengendap-endap menuju sebuah kamar yang terletak diruang tengah ,Tangan
kecilnya menyentuh gagang pintu , perlahan ia membuka pintu itu. Ia mulai
mengayunkan kaki kecilnya menuju ranjang tempat Adrian terbaring lemah.
“
Kak Adrian “ katanya sambil menepuk pundak Adrian. “ Kak Adrian noleh dong ini
Bastian , Bastian mau ngomong sama kaka .”
Masih
tak ada jawaban , Bastian terlihat bingung. Adrian tak memberi reaksi
sedikitpun.
“
Mamaa !!! “ teriak anak kecil itu lantang.
Suara
gemuruh langkah kaki mendekati kamar yang berada diruang tengah itu . “ Bastian
, kenapa kakak mu ? .”
“
Kak Adrian ma pa , Jantungnya udah enggak bunyi “ katanya sembari menangis.
“Enggak
mungkin “ mama Adrian menggelengkan kepalanya . “ Pa , jangan diam aja ayo kita
bawa Adrian kerumah sakit.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar