Rabu, 06 Maret 2013

Bagian Pertama :') ♥

         KANKER SAHABAT ADRIAN
           
           Laki-laki itu berdiri didepan cermin memperhatikan bentuk tubuhnya , yang kini kurus. Semua telah berubah , sangat berbeda. Tak ada lagi rambut lebat dikepalanya , tak ada lagi otot-otot kuat yang menghiasi tubuhnya , tak ada lagi senyum ceria yang terpancar dari wajah manisnya.
            Tok ! tok ! , pintu kamar lelaki itu diketok , oleh seseorang dari balik pintu.
            “ Masuk pintu enggak dikunci “ kata lelaki itu.
            Seorang wanita berumur sekitar empat puluh satu tahun, muncul dari balik pintu . “ Adrian , ayo sarapan pagi dulu sebelum berangkat kerumah sakit.”
            “ Rumah sakit ? Adrian bosen ma pergi kerumah sakit.”
            “ Drian , kamu enggak boleh bicara seperti itu . Mama tau , perasaan mu , mama ngerti nak  “ kata Wanita itu sembari memeluk putra sulung nya.
            “ Ma , kenapa Tuhan harus kasih penyakit ini ke aku ? apa salahku ma ?! “ kata Adrian sembari menatap lekat-lekat wajah mamanya.
            “ Kamu enggak salah nak , ini takdir Tuhan “ wanita itu berusaha tersenyum ditengah rasa getir yang menyelimuti hatinya.
            “ Aku udah selesai ma , masa depanku hanyalah kematian yang tinggal menunggu waktu bergulir .”
            “ Drian , jangan berkata seperti itu nak .”
            “ Ma aku lelaki penyakitan , Lingkan ninggalin aku karena aku sakit kanker . Aku tahu seberapa parah dan mematikannya penyakit ini.”
            Suasana hening , Adrian berbaring ditempat tidur , matanya tertuju pada sebuah foto yang terletak dimeja yang berada tak jauh dari ranjangnya.
            Terlihat difoto itu Adrian dengan rambut lebatnya , Adrian yang masih memiliki otot-otot kuat ditubuhnya , Adrian yang tersenyum manis memegang sebuah piala , juara lomba bermain futsal.
 Disisi kirinya teman-teman nya ikut larut dalam keceriaan , di sisi kanan nya terlihat seorang gadis berwajah manis yang memeluknya . Ya itu Lingkan kekasihnya , dulu.
            Sekarang semua itu tinggallah kenangan semata , jangankan berlari . Bisa berdiri dan sedikit beraktivitas saja Adrian sudah sangat bersyukur.                                            
       ***
 “ Gimana ma ? Adrian mau pergi kerumah sakit ? “ tanya lelaki itu , lelaki berumur sekitar empat puluh lima tahun .
Wajahnya yang mulai menua tumbuh beberapa kerutan , kerutan tanda perjuangannya selama ini.
            “ Adrian menolak pergi kerumah sakit pa , mama harus bagaimana ? ” wanita itu menangis , menumpahkan segala perasaannya.
            “ Kita harus terus membujuk Adrian ma , kemoterapi itu sangat penting bagi kelangsungan hidup Adrian .”
            Wanita itu menganggukan kepalanya , seorang anak kecil berumur sekitar delapan tahun mengintip pembicaraan itu dari balik pintu.
            Anak kecil itu meninggalkan kedua orang tuanya , yang didera kesedihan hebat , kedua orang tuanya yang sudah kehabisan akal untuk membujuk Adrian.
Anak kecil itu berjalan mengendap-endap menuju sebuah kamar yang terletak diruang tengah ,Tangan kecilnya menyentuh gagang pintu , perlahan ia membuka pintu itu. Ia mulai mengayunkan kaki kecilnya menuju ranjang tempat Adrian terbaring lemah.
            “ Kak Adrian “ katanya sambil menepuk pundak Adrian. “ Kak Adrian noleh dong ini Bastian , Bastian mau ngomong sama kaka .”
            Masih tak ada jawaban , Bastian terlihat bingung. Adrian tak memberi reaksi sedikitpun.
            “ Mamaa !!! “ teriak anak kecil itu lantang.
            Suara gemuruh langkah kaki mendekati kamar yang berada diruang tengah itu . “ Bastian , kenapa kakak mu ? .”
            “ Kak Adrian ma pa , Jantungnya udah enggak bunyi “ katanya sembari menangis.
            “Enggak mungkin “ mama Adrian menggelengkan kepalanya . “ Pa , jangan diam aja ayo kita bawa Adrian kerumah sakit.”
                                                                                    ***
       


Tidak ada komentar:

Posting Komentar