Bekal Sederhana
Bola
mata bulatnya sibuk memperhatikan rambutnya yang tergerai bebas. Sesekali
jemarinya bergerak , berusaha menata rambut berwarna hitam dikepalanya. Gadis
itu terlihat sebal , rambutnya susah diatur. Rambutnya keriting dan mekar , meskipun
sudah diiikat tetap saja rambut nya tidak tertata rapi. Rambut itu selalu
berantakan meskipun sudah dirapikan berkali-kali. Gadis itu merasa sangat sebal
, ia menendang meja rias kamarnya.
“
Aduh “ desis nya , sembari memegang kakinya yang mulai membiru. “ Kenapa aku
ditakdirkan memiliki rambut seperti ini? “ tanya nya , tak ada yang menjawab.
Kamarnya sunyi.
Hanya
suara katak yang terdengar nyaring , suara katak-katak yang saling bersahutan.
Tanah masih basah sepertinya hujan baru saja turun. Tina melongokan kepalanya
di jendela , matanya sibuk mengamati katak-katak yang berenang pada genangan
air hujan , yang tergenang dihalaman samping jendela kamarnya.
“
Seandainya rambutku tidak seperti ini sudah pasti banyak laki-laki yang
menyukaiku. Aku sebal punya rambut seperti ini.”
Bola
matanya masih sibuk memandang katak-katak yang berenang bebas. Ada dua ekor
katak yang menyita perhatiannya. Dua ekor katak yang saling memandang , seperti
menyukai satu sama lain. Tina menerawang jauh , ia teringat , Pandu teman
sekelasnya. Pandu seorang cowok yang membuatnya matanya enggan berkedip.
“
Pandu “ ucapnya lirih lalu terlelap , di malam gelap.
***
Jam
pelajaran kedua usai , terlihat jelas wajah-wajah gembira. Seperti biasa mereka
buyar begitu saja meninggalkan kelas. Tina senang , hatinya lega . Kelas
kosong. Kini ia dapat menyantap bekal yang dibawanya dari rumah. Bukannya tak
ada uang untuk membeli sesuap nasi atau jajanan dikantin . Tina hanya enggan ,
melangkahkan kakinya dikantin.
Tina lelah , telinganya panas mendengar ejekan
dari beberapa murid laki-laki yang nongkrong dikantin.
“
Tina Selola , rambut kamu kampungan banget.”
“
Tina , apa kamu tidak bosan dengan gaya rambut mu yang begitu-begitu
saja.”
“
Tina nama dan rambutmu sama-sama kunonya.”
Tina
sebal ia tak mau lagi menginjakan kakinya disebuah tempat yang bernama “ Kantin
Sekolah “ . Tempat dimana banyak murid-murid berkumpul , dimana banyak
segerombol anak yang berkuasa dan bertingkah seenaknya . Seolah - olah mereka
adalah anak yang paling perfect.
Tina
menjernihkan fikirannya , sambil menyantap bekalnya.
“
Lezat , nikmat “ katanya , sembari mengunyah makanan .
Bola
matanya tak sengaja menatap seseorang yang tidak asing lagi , seseorang yang
membuat hatinya damai. Seseorang , yang sering ia fikirkan dimalam gelap ,
Pandu.
Tina
memperhatikan wajah Pandu yang sendu , entah mengapa , ia begitu memahami wajah
itu. Pandu , satu-satunya lelaki yang kerap tersenyum kearah nya. Pandu
satu-satunya lelaki yang tak pernah menghujatnya, karena rambut aneh yang menempel dikepalanya.
“
Tina kamu melamun ?.”
Tanpa
Tina sadari Pandu telah berdiri disampingnya . “ Ah tidak aku tidak melamun
.Kamu tidak ke kantin ?.”
Pandu
menggeleng , lalu duduk disamping Tina.
“
Aku sedang malas ke kantin hari ini “ jawab Pandu.
“
Apa kamu tidak lapar ndu ? pelajaran Fisika tadi cukup menguras tenaga dan
fikiran kita.”
“
Aku lapar , hanya saja aku malas ke kantin . Suasana hatiku sedang buruk.”
Krucuk
, krucuk . Perut Pandu berbunyi.
“
Pandu , maukah kamu memakan bekal ini bersamaku ? “ tanya Tina , sembari
menyodorkan bekal miliknya.
“
Tidak usah . Aku bisa menahan rasa lapar ini “ Pandu tersenyum.
“
Pandu , kamu sudah sering menolongku . Jadi mari makan bekal ini bersamaku .
Dengan begitu kita impas.”
Pandu
diam sejenak , dari raut wajahnya terlihat jelas aura penolakan . Tina sudah
menduga. Namun , dugaannya salah. Pandu mengangguk menyetujui. Jemari tangan nya
mulai bergerak kearah sendok plastik berwarna putih yang terletak didekat
jemari Tina. Pandu mulai menyuapkan satu sendok nasi kedalam mulut. Tina
Sumringah.
Moment
berharga bagi Tina , hari yang bersejarah baginya. Tina tak bermimpi , Pandu
berada disampingnya , memakan bekal sederhana bersamanya.
Pandu aku tak tahu hal apa yang menimpamu ,
sampai raut wajahmu begitu sendu. Izinkan aku mengobati suasana hatimu yang
buruk walau hanya dengan bekal sederhana , batin Tina.