Jumat, 17 Mei 2013

Bekal Sederhana


                   Bekal Sederhana
           
            Bola mata bulatnya sibuk memperhatikan rambutnya yang tergerai bebas. Sesekali jemarinya bergerak , berusaha menata rambut berwarna hitam dikepalanya. Gadis itu terlihat sebal , rambutnya susah diatur. Rambutnya keriting dan mekar , meskipun sudah diiikat tetap saja rambut nya tidak tertata rapi. Rambut itu selalu berantakan meskipun sudah dirapikan berkali-kali. Gadis itu merasa sangat sebal , ia menendang meja rias kamarnya.
            “ Aduh “ desis nya , sembari memegang kakinya yang mulai membiru. “ Kenapa aku ditakdirkan memiliki rambut seperti ini? “ tanya nya , tak ada yang menjawab. Kamarnya sunyi.
            Hanya suara katak yang terdengar nyaring , suara katak-katak yang saling bersahutan. Tanah masih basah sepertinya hujan baru saja turun. Tina melongokan kepalanya di jendela , matanya sibuk mengamati katak-katak yang berenang pada genangan air hujan , yang tergenang dihalaman samping jendela kamarnya.
            “ Seandainya rambutku tidak seperti ini sudah pasti banyak laki-laki yang menyukaiku. Aku sebal punya rambut seperti ini.” 
            Bola matanya masih sibuk memandang katak-katak yang berenang bebas. Ada dua ekor katak yang menyita perhatiannya. Dua ekor katak yang saling memandang , seperti menyukai satu sama lain. Tina menerawang jauh , ia teringat , Pandu teman sekelasnya. Pandu seorang cowok yang membuatnya matanya enggan berkedip.
            “ Pandu “ ucapnya lirih lalu terlelap , di malam gelap.
                                                                        ***
            Jam pelajaran kedua usai , terlihat jelas wajah-wajah gembira. Seperti biasa mereka buyar begitu saja meninggalkan kelas. Tina senang , hatinya lega . Kelas kosong. Kini ia dapat menyantap bekal yang dibawanya dari rumah. Bukannya tak ada uang untuk membeli sesuap nasi atau jajanan dikantin . Tina hanya enggan , melangkahkan kakinya dikantin.
 Tina lelah , telinganya panas mendengar ejekan dari beberapa murid laki-laki yang nongkrong dikantin.
“ Tina Selola , rambut kamu kampungan banget.”
“ Tina , apa kamu tidak bosan dengan gaya rambut mu yang begitu-begitu saja.”   
            “ Tina nama dan rambutmu sama-sama kunonya.”
            Tina sebal ia tak mau lagi menginjakan kakinya disebuah tempat yang bernama “ Kantin Sekolah “ . Tempat dimana banyak murid-murid berkumpul , dimana banyak segerombol anak yang berkuasa dan bertingkah seenaknya . Seolah - olah mereka adalah anak yang paling perfect.
            Tina menjernihkan fikirannya , sambil menyantap bekalnya.
            “ Lezat , nikmat “ katanya , sembari mengunyah makanan .
            Bola matanya tak sengaja menatap seseorang yang tidak asing lagi , seseorang yang membuat hatinya damai. Seseorang , yang sering ia fikirkan dimalam gelap , Pandu.
            Tina memperhatikan wajah Pandu yang sendu , entah mengapa , ia begitu memahami wajah itu. Pandu , satu-satunya lelaki yang kerap tersenyum kearah nya. Pandu satu-satunya lelaki yang tak pernah menghujatnya,  karena rambut aneh yang menempel dikepalanya.
            “ Tina kamu melamun ?.”
            Tanpa Tina sadari Pandu telah berdiri disampingnya . “ Ah tidak aku tidak melamun .Kamu tidak ke kantin ?.”
            Pandu menggeleng , lalu duduk disamping Tina.
            “ Aku sedang malas ke kantin hari ini “ jawab Pandu.
            “ Apa kamu tidak lapar ndu ? pelajaran Fisika tadi cukup menguras tenaga dan fikiran kita.”
            “ Aku lapar , hanya saja aku malas ke kantin . Suasana hatiku sedang buruk.”
            Krucuk , krucuk . Perut Pandu berbunyi.
            “ Pandu , maukah kamu memakan bekal ini bersamaku ? “ tanya Tina , sembari menyodorkan bekal miliknya.
            “ Tidak usah . Aku bisa menahan rasa lapar ini “ Pandu tersenyum.
            “ Pandu , kamu sudah sering menolongku . Jadi mari makan bekal ini bersamaku . Dengan begitu kita impas.”
            Pandu diam sejenak , dari raut wajahnya terlihat jelas aura penolakan . Tina sudah menduga. Namun , dugaannya salah. Pandu mengangguk menyetujui. Jemari tangan nya mulai bergerak kearah sendok plastik berwarna putih yang terletak didekat jemari Tina. Pandu mulai menyuapkan satu sendok nasi kedalam mulut. Tina Sumringah.
            Moment berharga bagi Tina , hari yang bersejarah baginya. Tina tak bermimpi , Pandu berada disampingnya , memakan bekal sederhana bersamanya.
            Pandu aku tak tahu hal apa yang menimpamu , sampai raut wajahmu begitu sendu. Izinkan aku mengobati suasana hatimu yang buruk walau hanya dengan bekal sederhana , batin Tina.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar