Mobil itu
melaju kencang menuju sebuah rumah sakit yang Terletak di Jakarta Selatan.
Adrian terlihat lemah ia terbaring di tempat duduk mobil bagian belakang. Mamanya
tak henti-hentinya menangis melihat keaadaan Adrian .Badannya dingin . Wajahnya
pucat pasi. Sepertinya tiada lagi tanda-tanda kehidupan ditubuh Adrian
Mobil
berhenti tepat di depan lobby sebuah rumah sakit . Terlihat
beberapa suster dan petugas rumah sakit berlari kearah mobil. Adrian dibawa
keruang ICU.
“
Pa , Adrian pa bagaimana kalau anak kita meninggal ? “ mama Adrian terduduk
lemas di kursi yang terletak didepan ruang ICU.
“
Mama dengarin papa ,Adrian sangat kuat .Adrian mampu mengalahkan penyakitnya ”
Papa Adrian memberi senyuman kearah wanita yang ia cintai itu lalu memeluknya
seraya memberikan kekuatan .
““
Mama Papa , emang nya penyakit kak Adrian parah ya ? “ tanya Bastian polos ,
sangat polos sembari memainkan mobil-mobilan yang berada dikedua tangannya.
“
Enggak nak , kak Adrian sehat kok . Bastian tidur ya besok pagi Bastian kan
harus sekolah ” kata wanita itu.
Bastian
mengangguk lalu berbaring diatas kursi , ia menyandarkan kepala mungilnya di
pangkuan sang mama. Bastian si kecil penuh kepolosan , tak mengerti situasi apa
yang sebenarnya terjadi.
***
Matahari
pagi mulai menampakan sinarnya yang hangat disetiap sudut kota Jakarta. Sinar mentari itu menembus kaca jendela tempat
Adrian dirawat. Sinar hangatnya , menyentuh perlahan wajah Adrian. Adrian
terbangun , ia membuka matanya terlihat sosok mamanya yang terlelap dikursi
yang berada tepat disamping ranjang.
Adrian
berusaha bangkit , dari tempat tidur. Ia melepas infuse yang berada ditangannya
, ia ayunkan langkah kakinya keluar dari ruangan itu. Adrian menyusuri lorong
demi lorong rumah sakit. Adrian , menyandarkan tubuhnya disebuah kursi yang
terletak tak jauh dari kolam ikan , pandangannya kosong.
“
Kok ngelamun mas ? .”
Suara
itu mengagetkan Adrian , ia menoleh . “ Enggak kok .”
“
Tapi kok dari tadi bengong , lagi sedih ya ? “ gadis itu bertanya lagi , gadis
muda berbulu mata lentik.
“
Enggak.”
“
Galau ya mas ? jawabnya singkat banget.”
Adrian menoleh , ia mengerutkan
keningnya . “ Apa perlu lo tahu gue lagi galau ? ” tanya Adrian sembari
memperhatikan wajah gadis itu.
“
Mungkin perlu , mungkin juga enggak “ gadis itu membetulkan sebuah topi yang
menutupi kepalanya.
“ Lo
enggak perlu tahu .”
Adrian berlalu
meninggalkan gadis itu.
***
Adrian memasuki ruangan tempatnya dirawat ,
mamanya masih tertidur dikursi yang terletak di dekat ranjang . Air mata menetes
dari kedua kelopak mata Adrian , muncul rasa bersalah yang luar biasa.
Seandainya Adrian bisa mengulang waktu , ia tak ingin menyentuh satu batang
rokok manapun.
“
Ma , maafin Adrian “ katanya lirih , sembari memperhatikan sosok wanita yang
sangat ia kasihi itu.
Adrian
melangkahkan kaki menuju kamar mandi , badannya terasa lesu. Tak ada gairah
untuk melanjutkan kehidupan.
Wanita itu terbangun dari tidurnya , matanya
melirik kesekeliling ruangan mencari
sosok Adrian , tak terlihat sosok Adrian diruangan itu.
“
Drian , kamu sudah bangun nak ? .”
“
Udah ma , Drian lagi dikamar mandi.”
Wanita
itu bernafas lega , ia masih bisa mendengar suara putra kesayangannya. Sebuah
suara yang mampu menenangkan hatinya , saat ini . Wanita itu melangkahkan kaki
menuju wastafel yang berada dipojok ruangan , ia membasuh mukanya dengan air segar
yang mengalir pelan dari wastafel.
“
Ma , udah bangun ? .”
Wanita
itu menoleh . “ Sudah nak , mama lagi mau beli sarapan untuk kita berdua.”
“
Biar Adrian aja ma yang beli.”
“
Enggak usah Drian , mama aja. Kamu istirahat ya disini.”
“
Ma , Adrian mau pulang. Adrian enggak mau dirumah sakit , percuma ma Adrian
disini. Adrian enggak bakal sembuh.’
“
Drian , demi mama , papa , dan Bastian juga masa depanmu jalani pengobatan ini
nak .”
“
Ma . Drian kan udah pernah bilang ke mama Drian udah enggak punya masa depan
lagi , masa depan Drian ya kematian . Cuma itu.”
“
Drian , mama pengen lihat kamu sembuh “ kata wanita itu sembari menghapus
jutaan air mata yang menetes dari matanya.
“
Sembuh ? enggak mungkin ma . Sudahlah “.
“
Ma , Adrian yang beli sarapan mama
tunggu disini aja .”
“
Tapi …… “
“
Ma , Adrian bisa kok . Ini kan Cuma beli sarapan dikantin rumah sakit.”
“ Iya
Drian , mama tahu kamu anak yang kuat “ wanita itu tersenyum.
***
Adrian
memasuki kantin rumah sakit , tangan nya membetulkan topi berwarna biru yang
menutupi kepalanya. Ia melangkahkan kakinya menuju kearah seorang ibu-ibu yang
sedang menata ayam goreng.
“
Bu , nasi ayamnya dua ya “ kata Adrian ramah pada ibu kantin itu.
“
Oh iya mas , enggak pake sayuran ? .”
“
Enggak suka sayur bu , tapi yang satu dikasih sayur aja yang satunya enggak.”
Ibu
kantin itu menganggukan kepalanya , dengan kedua tangannya yang cekatan ia
lekas menyiapkan pesanan Adrian.
“
Kamu kok enggak suka sayur , padahal sayur enak loh. Bagus untuk kesehatan.”
Adrian
menoleh pada sumber suara itu .” Lo lagi “ katanya singkat.
\ Gadis
itu meringis , sembari mengambil tempat duduk disamping Adrian .” Halo ibu Ismi
, bu aku kayak biasa ya nasi sama sop lauknya tahu tempe .”
“
Iya , sebentar ya ibu siap kan.”
“
Kenapa sih disetiap sudut rumah sakit ini selalu ada lo ? ” tanya Adrian.
“
Hmmm , mungkin takdir “ jawab gadis itu singkat.
“
Takdir ? maksudnya ? gue enggak ngerti .”
Gadis
itu tersenyum . “ Bu udah nasi sama sop nya ? .”
“ Udah
mba , Mas nya ditunggu dulu ya pesanannya soalanya baru digoreng daging
ayamnya.”
Adrian
mengangguk , matanya sibuk mengawasi sosok seorang gadis yang kini menyita
matanya. Kulit gadis itu putih , bulu matanya sangat lentik membuat matanya
terlihat begitu cantik. Adrian mengamati sebuah topi yang menutupi kepala gadis
itu.
“
Topi kamu bagus “ kata Adrian .
Gadis
itu menolehkan kepalanya . “ Oh iya , topi kamu juga bagus .”
“
Oh iya nama lo siapa ? Gue Kasih “ kata gadis itu sembari mengulurkan
tangannya.
“ Gue
, Adrian “ Adrian menjabat tangan Kasih.
“
Mba Kasih , gimana keadaannya sekarang ? “ tanya ibu kantin itu , sembari
mengangkat ayam dari wajan yang panas.
‘
Baik bu , tadi habis kemoterapi “ jawab kasih , senyum ceria terpancar jelas
dari wajahnya.
Mata
Adrian kembali menatap kasih “ Kasih lo sakit
? .”
Gadis
itu mengangguk sambil menyantap sop yang lezat
“ Leukimia stadium tiga ” jawabnya , senyuman selalu melekat pada wajah
gadis itu.
“
Oh gitu , pantesan lo juga pake topi sama kayak gue.”
“
Iya topi kita benar-benar istimewa “ sahut Kasih sembari menatap Adrian.
“
Istemewa ? dari segi mana keistimewaanya ? Cuma orang sakit yang enggak punya
rambut , yang pake topi kayak gini .”
‘
Hmm ya itu kan menurut pandangan lo Adrian , kalau pandangan gue beda. Pake
topi kayak gini tuh istemewa.”
“
Mas ini pesananya sudah siap .”
Adrian
mengalihkan pandangannya pada ibu kantin . “ Oh iya “ Adrian mengambil dua
lembar pecahan sepuluh ribu rupiah dari dalam dompetnya.
Adrian
bangkit dari tempat duduknya , ia hendak pergi meninggalkan kantin . Kasih
menarik tangan Adrian . “ Besok pagi ke taman ya , jam setengah tujuh .”
Adrian
menggelengkan kepalanya , sosoknya berlalu dari kantin.
***
Adrian
melahap nasi yang bearada di depan matanya , dengan sepotong ayam goreng yang
masih hangat.
“
Drian ini minuman nya , ntar seret kalo makan enggak minum “ wanita itu
menyodorkan air putih ke arah Adrian.
“
Makasih ma .“
Wanita
itu tersenyum . “ Bastian hari ini ujian semester , mama berharap dia bias menjawab
soal.”
“
Gak terasa ya ma , waktu berjalan begitu cepat . Bastian udah gede sekarang
padahal beberapa tahun yang lalu dia baru lahir .Tubuhnya masih kecil dan
mungil.”
“
Iya , semua berjalan begitu cepat Drian . Drian besok pagi mama mau pulang
kerumah ambil beberapa baju .”
“
Hmm iya ma , Drian kangen sama rumah , kangen Bastian kangen papa.”
“
Drian mama yakin dalam waktu dekat ini , kamu udah bisa pulang kerumah .”
“
Ma apa mungkin Drian bias sembuh ?.”
“
Sangat mungkin , enggak ada yang mustahil di dunia ini selama tuhan berkehendak”
katanya sembari menatap putranya.
“
Ma , maafin Drian selama ini Drian selalu bikin mama kecewa. Mungkin lewat
penyaktit ini tuhan menghukum Drian .”
Suasana
hening , tiada lagi percakapan antara Adrian dan mamanya . Adrian membisu ,
terlintas sosok Kasih difikirannya . Seorang gadis ceria , yang mempunyai
semangat hidup tinggi.
***
Pagi ini Adrian begitu bersemangat ,
badannya terasa segar setelah ia menggguyur badan dengan air segar dari dalam
kamar mandi . Adrian mengambil tiga butir obat dari dalam laci . Ia lekas
melahap bubur yang masih hangat , sebelum meminum obatnya.
Tangan
kurusnya mengambil handphone dari dalam sakunya , ia putar lagu favoritnya
Malaikat Juga tahu , alunan music membuat hati Adrian damai. .
“
Oke , mandi udah minum obat juga udah . Sekarang tinggal ke taman .”
Adrian
melangkahkan kedua kakinya menuju taman rumah sakit . Seorang gadis telah menunggunya
disana , Kasih. Kasih duduk manis di dekat kolam ikan , tangan mungilnya
menggenggam makanan ikan. Sesekali ia
melempar makanan ikan itu ke kolam , ikan-ikan bersuka cita menyambut makanan
yang terjun ke kolam.
“
Hei .”
Kasih
menoleh kearah suara lembut itu . “ Hei juga Adrian .”
“
Lagi sibuk ? “ tanya Adrian sembari mengamati hal yang Kasih lakukan , memberi
makan ikan di kolam.
“
Enggak kok , gue Cuma lagi ngejalanin tugas pagi aja .”
“
Tugas ? maksud lo ? .”
“
Iya tugas pagi , yang udah gue jalanin hampir empat bulan terakhir ngasih makan
ikan-ikan lucu ini.”
Adrian
manggut-manggut mendengar jawaban Kasih. “ Udah berapa lama lo dirawat disini ?
.”
“
Udah hampir lima bulan .”
“
Mama , Papa lo jagain lo disini ? .”
“
Mama sama Papa kerja , mama biasa kesini seminggu sekali. Gue enggak mau
terlalu merepotkan mereka.”
“ Oh
gitu “ kata Adrian sembari duduk disamping Kasih . “ Apa Kanker itu bisa sembuh
? apa lo yakin kalau gue sama lo bisa bebas dari penyakit mematikan ini.”
Kasih
menoleh menatap lekat wajah Adrian . “ Drian , kalau gue enggak punya keyakinan
untuk sembuh , gue sekarang enggak akan ada disini, duduk disamping lo. Mungkin
, gue udah disurga.”
“
Gue salut sama lo Sih , lo cewek yang paling kuat yang pernah gue temuin selama
gue hidup. Gue kalah sama lo , gue sama sekali enggak punya keyakinan untuk
sembuh. Gue udah pasrah sama Tuhan.”
“
Drian , tuhan itu akan selalu memberi mahkluknya jalan yang terang ketika
mahkluknya selalu berusaha.Kita harus menerima dan mencoba bersahabat dengan
penyakit ini.“ kata Kasih sembari memberi senyuman , sebuah senyuman semangat .
“
Dulu, waktu SMA gue perokok berat Sih . Gue terpaksa ngerokok , karena
temen-temen gue bilang kalau enggak ngerokok itu berarti banci. Awalnya Cuma
nyoba-nyoba tapi dengan seiring waktu berjalan merokok jadi bagian penting
dihidup gue.”
“
Lo , enggak nyoba berhenti ? .”
“
Nyoba , tapi enggak pernah bisa. Sehari
tanpa rokok badan gue sakit .”
“
Drian , sekarang semua itu masa lalu kamu . Lupain masa kelam itu “ Kasih
menepuk pelan pundak Adrian. “ Lo harus semangat mulai sekarang , lo harus
yakin kalau tuhan pasti memberi kesembuhan .”
“
Iya Sih mulai sekarang gue bakal jalanin pengobatan , gue pengen sembuh . Gue
enggak mau lihat air mata lagi di wajah mama ” Adrian menghela nafas . “
Marahin gue ya , kalau gue putus asa , marahin gue kalau gue enggak punya
semangat hidup.”
“ Pastinya
, gue bakal selalu marahin lo setiap saat , setiap detik . lo enggak boleh putus
asa dan enggak punya semangat hidup !.”
“
Janji ? .”
“
Janji ” Kasih mengaitkan jari keliking kecil miliknya dijari Adrian , keduanya
saling bertatapan .
Adrian meletakan kepala
nya , dipundak kasih. Keduanya saling tersenyum memandang satu sama lain ,
keduanya kini saling menguatkan ditengah penyakit ganas yang mengancam jiwa
kedua insan manusia itu. Bukankah Tuhan tak pernah tidur , bukankah tuhan
selalu mendengar rangkaian doa yang kita ucapkan. Kuatlah dan Yakinlah tiada
yang mustahil di dunia ini. Dokter adalah manusia mulia , tapi jangan lupa
bahwa dokter juga manusia ciptaan Tuhan .
Berdoalah maka Tuhan
akan memberi jalan yang terang dari setiap masalah yang kita hadapi. :)