Cahaya Di Hidupku
Ibu
aku sering memanggilnya begitu . Wajahnya , hidungnya , rambutnya begitu akrab
denganku selama ini. Aku selalu mengagumi , selalu menyayangi sosoknya. Sosok
seorang wanita, yang membiarkan aku tumbuh didalam rahimnya , beliau mengandungku
hingga Sembilan bulan lamanya. Mempertaruhkan nyawanya antara hidup dan mati
demi melahirkan diriku di dunia.
Aku
kecil sering menangis di malam gelap , aku kecil haus ASI dimalam gelap .
Tangan lembut itu membelaiku dengan penuh kasih sayang , begitu seterusnya
hingga aku tumbuh besar. Aku besar , mulai tumbuh menjadi gadis remaja . Kadang
banyak masalah yang membuatku sering marah , kadang membantah kata-kata ibu.
Bahkan terkadang kami sering bersitegang karena berbeda pendapat.
Tapi
dibalik semua itu , aku tahu ibuku sangat menyayangiku. Begitupun aku yang
sangat menyayanginya. Hanya saja kadang seorang anak tak tahu caranya untuk
menunjukan bahwa kasih sayang itu ada.
Saat
aku mulai tumbuh menjadi wanita dewasa , aku mulai mengenal dunia luar. Dunia
luar yang kejam , dunia luar yang penuh dengan persaingan. Aku sering
merindukan ibu , aku ingin berada didekapannya seperti waktu aku kecil dulu.
Sungguh
aku ingin melalui detik demi detik kehidupanku bersama ibu. Aku ingin melihat
tawanya , setiap detik. Aku ingin merawatnya sampai akhir hayat.
Aku
ingin setiap waktu , selalu melihat ibu tersenyum bahagia selamanya.