Rasa Di Balik Ospek
Surga mungkin itu yang dapat aku katakan . Surga , masa ospek telah berakhir , berakhir ! . Semua penderitaan ku selama satu minggu berakhir. Sekarang aku telah resmi menjadi mahasiswi , aku bukan calon mahasiswi lagi.
Seharusnya
perasaan ku sangat bahagia , tapi ada suatu hal yang sangat mengangguku . Aku
kembali mengenang dia , kakak senior yang diam-diam aku kagumi , Aldi Alverdo.
Siang
itu kami para maba fakultas Ilmu Sosial dan Politik dikumpulkan jadi satu
didalam satu ruangan . Aku sudah lelah , badanku sangat letih .Rentetan acara
ospek membosankan. Sungguh membosankan.
“
Shin , tuh cowok kece ya “ kata seorang teman yang duduk disampingku .
Aku
menoleh . “ Yang mana ? enggak ada yang kece kok . Semua sama aja “ jawabku cuek.
“
Shin mata kamu benar-benar rabun. Rabun tahap kronis “ kata Lily sembari
menatapku dengan tatapan aneh , aku sebal ditatap dengan tatapan seperti itu.
“
Yang mana sih ? yang lagi pidato di depan ? “ tanyaku sambil memperhatikan ,
seorang kakak senior yang tengah sibuk berpidato . Kakak Senior yang mengenakan
kaca mata minus tebal.
“
Bukan , itu loh cowok yang dipojokan yang lagi pegang kamera.”
Mataku
kini beralih , kearah pojokan disana seorang cowok berbadan tegap tengah sibuk
mengatur kamera. Wajahnya kalem , jambul rambutnya tinggi sekitar lima
centimeter. Hidung nya mancung , mirip hidung orang timur tengah. Ia membungkukan
badannya membidik gambar acara ospek, Mataku telah terkontaminasi oleh dirinya.
“
Namanya Aldi Alverdo “ bisil Lily ditelingaku , sepertimya dia tahu , mataku
telah terkontaminasi oleh sosok Aldi.
Aku
membiarkan mataku terus memandangnya , bahkan setiap gerakan tubuhnya tak
pernah lepas dari pandanganku . Ku habiskan waktuku hari ini , dengan diam-diam
mencuri pandang kearahnya. Hanya hal ini yang aku sukai dari ospek , dimana aku
dengan bebas bisa melihat wajah Aldi. Wajah Aldi membuat masa-masa ospek terasa
ringan.
Dikampus
, aku sering mencari-cari dia. Aku hanya ingin melihat wajahnya . Tapi aku
gagal , sosokya sulit kutemukan. Aku rindu menatap lekukan wajahnya. Bisakah
diulang kembali moment itu , moment dimana aku diam-diam mencuri pandang ke
wajah Aldi . Wajah Aldi yang membuat hari-hariku terasa ringan. Ah sial aku
benar-benar merindukan wajahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar