Jumat, 08 Maret 2013

Ending Kanker Sahabat Adrian ♥ :)


            Mobil itu melaju kencang menuju sebuah rumah sakit yang Terletak di Jakarta Selatan. Adrian terlihat lemah ia terbaring di tempat duduk mobil bagian belakang. Mamanya tak henti-hentinya menangis melihat keaadaan Adrian .Badannya dingin . Wajahnya pucat pasi. Sepertinya tiada lagi tanda-tanda kehidupan ditubuh Adrian    
            Mobil berhenti tepat  di depan lobby sebuah rumah sakit . Terlihat beberapa suster dan petugas rumah sakit berlari kearah mobil. Adrian dibawa keruang ICU.                                                   
            “ Pa , Adrian pa bagaimana kalau anak kita meninggal ? “ mama Adrian terduduk lemas di kursi yang terletak didepan ruang ICU.
            “ Mama dengarin papa ,Adrian sangat kuat .Adrian mampu mengalahkan penyakitnya ” Papa Adrian memberi senyuman kearah wanita yang ia cintai itu lalu memeluknya seraya memberikan kekuatan .
            ““ Mama Papa , emang nya penyakit kak Adrian parah ya ? “ tanya Bastian polos , sangat polos sembari memainkan mobil-mobilan yang berada dikedua tangannya.
            “ Enggak nak , kak Adrian sehat kok . Bastian tidur ya besok pagi Bastian kan harus sekolah ” kata wanita itu.
            Bastian mengangguk lalu berbaring diatas kursi , ia menyandarkan kepala mungilnya di pangkuan sang mama. Bastian si kecil penuh kepolosan , tak mengerti situasi apa yang sebenarnya terjadi.
                                                                        ***
            Matahari pagi mulai menampakan sinarnya yang hangat disetiap sudut kota Jakarta.  Sinar mentari itu menembus kaca jendela tempat Adrian dirawat. Sinar hangatnya , menyentuh perlahan wajah Adrian. Adrian terbangun , ia membuka matanya terlihat sosok mamanya yang terlelap dikursi yang berada tepat disamping ranjang.
            Adrian berusaha bangkit , dari tempat tidur. Ia melepas infuse yang berada ditangannya , ia ayunkan langkah kakinya keluar dari ruangan itu. Adrian menyusuri lorong demi lorong rumah sakit. Adrian , menyandarkan tubuhnya disebuah kursi yang terletak tak jauh dari kolam ikan , pandangannya kosong.
            “ Kok ngelamun mas ? .”
            Suara itu mengagetkan Adrian , ia menoleh . “ Enggak kok .”
            “ Tapi kok dari tadi bengong , lagi sedih ya ? “ gadis itu bertanya lagi , gadis muda berbulu mata lentik.
            “ Enggak.”
            “ Galau ya mas ? jawabnya singkat banget.”
            Adrian menoleh , ia mengerutkan keningnya . “ Apa perlu lo tahu gue lagi galau ? ” tanya Adrian sembari memperhatikan wajah gadis itu.
            “ Mungkin perlu , mungkin juga enggak “ gadis itu membetulkan sebuah topi yang menutupi kepalanya.
            “ Lo enggak perlu tahu .”
Adrian berlalu meninggalkan gadis itu.
                                                            ***
             Adrian memasuki ruangan tempatnya dirawat , mamanya masih tertidur dikursi yang terletak di dekat ranjang . Air mata menetes dari kedua kelopak mata Adrian , muncul rasa bersalah yang luar biasa. Seandainya Adrian bisa mengulang waktu , ia tak ingin menyentuh satu batang rokok manapun.
            “ Ma , maafin Adrian “ katanya lirih , sembari memperhatikan sosok wanita yang sangat ia kasihi itu.
            Adrian melangkahkan kaki menuju kamar mandi , badannya terasa lesu. Tak ada gairah untuk melanjutkan kehidupan.
             Wanita itu terbangun dari tidurnya , matanya melirik kesekeliling ruangan  mencari sosok Adrian , tak terlihat sosok Adrian diruangan itu.
            “ Drian , kamu sudah bangun nak ? .”
            “ Udah ma , Drian lagi dikamar mandi.”
            Wanita itu bernafas lega , ia masih bisa mendengar suara putra kesayangannya. Sebuah suara yang mampu menenangkan hatinya , saat ini . Wanita itu melangkahkan kaki menuju wastafel yang berada dipojok ruangan , ia membasuh mukanya dengan air segar yang mengalir pelan dari wastafel.
            “ Ma , udah bangun ? .”
            Wanita itu menoleh . “ Sudah nak , mama lagi mau beli sarapan untuk kita berdua.”
            “ Biar Adrian aja ma yang beli.”
            “ Enggak usah Drian , mama aja. Kamu istirahat ya disini.”
            “ Ma , Adrian mau pulang. Adrian enggak mau dirumah sakit , percuma ma Adrian disini. Adrian  enggak bakal sembuh.’
            “ Drian , demi mama , papa , dan Bastian juga masa depanmu jalani pengobatan ini nak .”
            “ Ma . Drian kan udah pernah bilang ke mama Drian udah enggak punya masa depan lagi , masa depan Drian ya kematian . Cuma itu.”
            “ Drian , mama pengen lihat kamu sembuh “ kata wanita itu sembari menghapus jutaan air mata yang menetes dari matanya.
            “ Sembuh ? enggak mungkin ma . Sudahlah “.                                                                                    “ Ma ,  Adrian yang beli sarapan mama tunggu disini aja .”
            “ Tapi …… “
            “ Ma , Adrian bisa kok . Ini kan Cuma beli sarapan dikantin rumah sakit.”
            “ Iya Drian , mama tahu kamu anak yang kuat “ wanita itu tersenyum.
                                                                        ***
            Adrian memasuki kantin rumah sakit , tangan nya membetulkan topi berwarna biru yang menutupi kepalanya. Ia melangkahkan kakinya menuju kearah seorang ibu-ibu yang sedang menata ayam goreng.
            “ Bu , nasi ayamnya dua ya “ kata Adrian ramah pada ibu kantin itu.
            “ Oh iya mas , enggak pake sayuran ? .”
            “ Enggak suka sayur bu , tapi yang satu dikasih sayur aja yang satunya enggak.”
            Ibu kantin itu menganggukan kepalanya , dengan kedua tangannya yang cekatan ia lekas menyiapkan pesanan Adrian.
            “ Kamu kok enggak suka sayur , padahal sayur enak loh. Bagus untuk kesehatan.”
            Adrian menoleh pada sumber suara itu .” Lo lagi “ katanya singkat.
\           Gadis itu meringis , sembari mengambil tempat duduk disamping Adrian .” Halo ibu Ismi , bu aku kayak biasa ya nasi sama sop lauknya tahu tempe .”
            “ Iya , sebentar ya ibu siap kan.”
            “ Kenapa sih disetiap sudut rumah sakit ini selalu ada lo ? ” tanya Adrian.
            “ Hmmm , mungkin takdir “ jawab gadis itu singkat.
            “ Takdir ? maksudnya ? gue enggak ngerti .”
            Gadis itu tersenyum . “ Bu udah nasi sama sop nya ? .”
            “ Udah mba , Mas nya ditunggu dulu ya pesanannya soalanya baru digoreng daging ayamnya.”
            Adrian mengangguk , matanya sibuk mengawasi sosok seorang gadis yang kini menyita matanya. Kulit gadis itu putih , bulu matanya sangat lentik membuat matanya terlihat begitu cantik. Adrian mengamati sebuah topi yang menutupi kepala gadis itu.
            “ Topi kamu bagus “ kata Adrian .
            Gadis itu menolehkan kepalanya . “ Oh iya , topi kamu juga bagus .”
             “ Oh iya nama lo siapa ? Gue Kasih “ kata gadis itu sembari mengulurkan tangannya.
            “ Gue , Adrian “ Adrian menjabat tangan Kasih.      
            “ Mba Kasih , gimana keadaannya sekarang ? “ tanya ibu kantin itu , sembari mengangkat ayam dari wajan yang panas.
            ‘ Baik bu , tadi habis kemoterapi “ jawab kasih , senyum ceria terpancar jelas dari wajahnya.
            Mata Adrian kembali menatap kasih “ Kasih lo sakit  ? .”
            Gadis itu mengangguk sambil menyantap sop yang lezat  “ Leukimia stadium tiga ” jawabnya , senyuman selalu melekat pada wajah gadis itu.  
            “ Oh gitu , pantesan lo juga pake topi sama kayak gue.”
            “ Iya topi kita benar-benar istimewa “ sahut Kasih sembari menatap Adrian.
            “ Istemewa ? dari segi mana keistimewaanya ? Cuma orang sakit yang enggak punya rambut , yang pake topi kayak gini .”
            ‘ Hmm ya itu kan menurut pandangan lo Adrian , kalau pandangan gue beda. Pake topi kayak gini tuh istemewa.”     
            “ Mas ini pesananya sudah siap .”
            Adrian mengalihkan pandangannya pada ibu kantin . “ Oh iya “ Adrian mengambil dua lembar pecahan sepuluh ribu rupiah dari dalam dompetnya.
            Adrian bangkit dari tempat duduknya , ia hendak pergi meninggalkan kantin . Kasih menarik tangan Adrian . “ Besok pagi ke taman ya , jam setengah tujuh .”
            Adrian menggelengkan kepalanya , sosoknya berlalu dari kantin.
                                                                        ***
            Adrian melahap nasi yang bearada di depan matanya , dengan sepotong ayam goreng yang masih hangat.
            “ Drian ini minuman nya , ntar seret kalo makan enggak minum “ wanita itu menyodorkan air putih ke arah Adrian.
            “ Makasih ma .“
            Wanita itu tersenyum . “ Bastian hari ini ujian semester , mama berharap dia bias menjawab soal.”
            “ Gak terasa ya ma , waktu berjalan begitu cepat . Bastian udah gede sekarang padahal beberapa tahun yang lalu dia baru lahir .Tubuhnya masih kecil dan mungil.”
            “ Iya , semua berjalan begitu cepat Drian . Drian besok pagi mama mau pulang kerumah ambil beberapa baju .”
            “ Hmm iya ma , Drian kangen sama rumah , kangen Bastian kangen papa.”
            “ Drian mama yakin dalam waktu dekat ini , kamu udah bisa pulang kerumah .”
            “ Ma apa mungkin Drian bias sembuh ?.”
            “ Sangat mungkin , enggak ada yang mustahil di dunia ini selama tuhan berkehendak” katanya sembari menatap putranya.
            “ Ma , maafin Drian selama ini Drian selalu bikin mama kecewa. Mungkin lewat penyaktit ini tuhan menghukum Drian .”
            Suasana hening , tiada lagi percakapan antara Adrian dan mamanya . Adrian membisu , terlintas sosok Kasih difikirannya . Seorang gadis ceria , yang mempunyai semangat hidup tinggi.
                                                                        ***
            Pagi ini Adrian begitu bersemangat , badannya terasa segar setelah ia menggguyur badan dengan air segar dari dalam kamar mandi . Adrian mengambil tiga butir obat dari dalam laci . Ia lekas melahap bubur yang masih hangat , sebelum meminum obatnya.
            Tangan kurusnya mengambil handphone dari dalam sakunya , ia putar lagu favoritnya Malaikat Juga tahu , alunan music membuat hati Adrian damai. .
            “ Oke , mandi udah minum obat juga udah . Sekarang tinggal ke taman .”
            Adrian melangkahkan kedua kakinya menuju taman rumah sakit . Seorang gadis telah menunggunya disana , Kasih. Kasih duduk manis di dekat kolam ikan , tangan mungilnya menggenggam makanan ikan.  Sesekali ia melempar makanan ikan itu ke kolam , ikan-ikan bersuka cita menyambut makanan yang terjun ke kolam.
            “ Hei .”
            Kasih menoleh kearah suara lembut itu . “ Hei juga Adrian .”
            “ Lagi sibuk ? “ tanya Adrian sembari mengamati hal yang Kasih lakukan , memberi makan ikan di kolam.
            “ Enggak kok , gue Cuma lagi ngejalanin tugas pagi aja .”
            “ Tugas ? maksud lo ? .”
            “ Iya tugas pagi , yang udah gue jalanin hampir empat bulan terakhir ngasih makan ikan-ikan lucu ini.”
            Adrian manggut-manggut mendengar jawaban Kasih. “ Udah berapa lama lo dirawat disini ? .”
            “ Udah hampir lima bulan .”
            “ Mama , Papa lo jagain lo disini ? .”
            “ Mama sama Papa kerja , mama biasa kesini seminggu sekali. Gue enggak mau terlalu merepotkan mereka.”
            “ Oh gitu “ kata Adrian sembari duduk disamping Kasih . “ Apa Kanker itu bisa sembuh ? apa lo yakin kalau gue sama lo bisa bebas dari penyakit mematikan ini.”
            Kasih menoleh menatap lekat wajah Adrian . “ Drian , kalau gue enggak punya keyakinan untuk sembuh , gue sekarang enggak akan ada disini, duduk disamping lo. Mungkin , gue udah disurga.”
            “ Gue salut sama lo Sih , lo cewek yang paling kuat yang pernah gue temuin selama gue hidup. Gue kalah sama lo , gue sama sekali enggak punya keyakinan untuk sembuh. Gue udah pasrah sama Tuhan.”
            “ Drian , tuhan itu akan selalu memberi mahkluknya jalan yang terang ketika mahkluknya selalu berusaha.Kita harus menerima dan mencoba bersahabat dengan penyakit ini.“ kata Kasih sembari memberi senyuman , sebuah senyuman semangat .
            “ Dulu, waktu SMA gue perokok berat Sih . Gue terpaksa ngerokok , karena temen-temen gue bilang kalau enggak ngerokok itu berarti banci. Awalnya Cuma nyoba-nyoba tapi dengan seiring waktu berjalan merokok jadi bagian penting dihidup gue.”
            “ Lo , enggak nyoba berhenti ? .”
            “ Nyoba , tapi enggak pernah bisa.  Sehari tanpa rokok badan gue sakit .”
            “ Drian , sekarang semua itu masa lalu kamu . Lupain masa kelam itu “ Kasih menepuk pelan pundak Adrian. “ Lo harus semangat mulai sekarang , lo harus yakin kalau tuhan pasti memberi kesembuhan .”
            “ Iya Sih mulai sekarang gue bakal jalanin pengobatan , gue pengen sembuh . Gue enggak mau lihat air mata lagi di wajah mama ” Adrian menghela nafas . “ Marahin gue ya , kalau gue putus asa , marahin gue kalau gue enggak punya semangat hidup.”
            “ Pastinya , gue bakal selalu marahin lo setiap saat , setiap detik . lo enggak boleh putus asa dan enggak punya semangat hidup !.”
            “ Janji ? .”
            “ Janji ” Kasih mengaitkan jari keliking kecil miliknya dijari Adrian , keduanya saling bertatapan .
Adrian meletakan kepala nya , dipundak kasih. Keduanya saling tersenyum memandang satu sama lain , keduanya kini saling menguatkan ditengah penyakit ganas yang mengancam jiwa kedua insan manusia itu. Bukankah Tuhan tak pernah tidur , bukankah tuhan selalu mendengar rangkaian doa yang kita ucapkan. Kuatlah dan Yakinlah tiada yang mustahil di dunia ini. Dokter adalah manusia mulia , tapi jangan lupa bahwa dokter juga manusia ciptaan Tuhan .
Berdoalah maka Tuhan akan memberi jalan yang terang dari setiap masalah yang kita hadapi. :)  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar